Direction

Jadilah Kader Sejati Untuk IPM

SCM Music Player

Selasa, 02 Juli 2013

Detik-detik Terakhir Nabi Muhammad SAW. Menjelang Ajal

 

 

Detik-detik Terakhir Nabi Muhammad SAW. Menjelang Ajal

‘Pagi itu, Rasulullah dengan suara terbata memberikan petuah, “Wahai umatku, kita semua ada dalam kekuasaan Allah dan cinta kasih-Nya. Maka taati dan bertakwalah kepada-Nya. Kuwariskan dua hal pada kalian, sunnah dan Al Qur’an. Barang siapa mencintai sunnahku, berati mencintai aku dan kelak orang-orang yang mencintaiku, akan bersama-sama masuk surga bersama aku.” Khutbah singkat itu diakhiri dengan pandangan mata Rasulullah yang teduh menatap sahabatnya satu persatu. Abu Bakar menatap mata itu dengan berkaca-kaca, Umar dadanya naik turun menahan napas dan tangisnya. Ustman menghela napas panjang dan Ali menundukkan kepalanya dalam-dalam. Isyarat itu telah datang, saatnya sudah tiba.

“Rasulullah akan meninggalkan kita semua,” desah hati semua sahabat kala itu. Manusia tercinta itu, hampir usai menunaikan tugasnya di dunia. Tanda-tanda itu semakin kuat, tatkala Ali dan Fadhal dengan sigap menangkap Rasulullah yang limbung saat turun dari mimbar. Saat itu, seluruh sahabat yang hadir di sana pasti akan menahan detik-detik berlalu, kalau bisa. Matahari kian tinggi, tapi pintu Rasulullah masih tertutup. Sedang di dalamnya, Rasulullah sedang terbaring lemah dengan keningnya yang berkeringat dan membasahi pelepah kurma yang menjadi alas tidurnya.

Tiba-tiba dari luar pintu terdengar seorang yang berseru mengucapkan salam. “Bolehkah saya masuk?” tanyanya. Tapi Fatimah tidak mengizinkannya masuk, “Maafkanlah, ayahku sedang demam,” kata Fatimah yang membalikkan badan dan menutup pintu. Kemudian ia kembali menemani ayahnya yang ternyata sudah membuka mata dan bertanya pada Fatimah, “Siapakah itu wahai anakku?”.”Tak tahulah ayahku, orang sepertinya baru sekali ini aku melihatnya,”tutur Fatimah lembut. Lalu, Rasulullah menatap puterinya itu dengan pandangan yang menggetarkan. Seolah-olah bahagian demi bahagian wajah anaknya itu hendak dikenang. ”Ketahuilah, dialah yang menghapuskan kenikmatan sementara, dialah yang memisahkan pertemuan di dunia. Dialah malaikatul maut,” kata Rasulullah, Fatimah pun menahan ledakan tangisnya.

Malaikat maut datang menghampiri, tapi Rasulullah menanyakan kenapa Jibril tidak ikut bersama menyertainya. Kemudian dipanggillah Jibril yang sebelumnya sudah bersiap di atas langit dunia menyambut ruh kekasih Allah dan penghulu dunia ini. ” Jibril, jelaskan apa hakku nanti di hadapan Allah?” Tanya Rasululllah dengan suara yang amat lemah. “Pintu-pintu langit telah terbuka, para malaikat telah menanti rohmu. Semua surga terbuka lebar menanti kedatanganmu,” kata Jibril. Tapi itu ternyata tidak membuatkan Rasulullah lega, matanya masih penuh kecemasan.

“Engkau tidak senang mendengar khabar ini?” Tanya Jibril lagi. “Khabarkan kepadaku bagaimana nasib umatku kelak?” “Jangan khawatir, wahai Rasul Allah, aku pernah mendengar Allah berfirman kepadaku: Kuharamkan surga bagi siapa saja, kecuali umat Muhammad telah berada di dalamnya,” kata Jibril. Detik-detik semakin dekat, saatnya Izrail melakukan tugas. Perlahan ruh Rasulullah ditarik. Nampak seluruh tubuh Rasulullah bersimbah peluh, urat-urat lehernya menegang.”Jibril, betapa sakit sakaratul maut ini.” Perlahan Rasulullah mengaduh. Fatimah terpejam, Ali yang di sampingnya menunduk semakin dalam dan Jibril memalingkan muka.

“Jijikkah kau melihatku, hingga kau palingkan wajahmu Jibril?” Tanya Rasulullah pada Malaikat pengantar wahyu itu. ”Siapakah yang sanggup, melihat kekasih Allah direnggut ajal,” kata Jibril. Sebentar kemudian terdengar Rasulullah mengaduh, karena sakit yang tidak tertahankan lagi. “Ya Allah, dahsyat nian maut ini, timpakan saja semua siksa maut ini kepadaku, jangan pada umatku. “Badan Rasulullah mulai dingin, kaki dan dadanya sudah tidak bergerak lagi.

Bibirnya bergetar seakan hendak membisikkan sesuatu, Ali mendekatkan telinganya.”Uushiikum bis-shalaati, wamaa malakat aimaanukum – peliharalah shalat dan peliharalah orang-orang lemah di antaramu.” Di luar, pintu tangis mulai terdengar bersahutan, sahabat saling berpelukan. Fatimah menutupkan tangan di wajahnya, dan Ali kembali mendekatkan telinganya ke bibir Rasulullah yang mulai kebiruan. “Ummatii, ummatii, ummatiii!” – “Umatku, umatku, umatku”

Dan, berakhirlah hidup manusia mulia yang memberi sinaran itu. Kini, mampukah kita mencintai sepertinya?

Read more: http://iis-page.blogspot.com/2012/02/detik-detik-terakhir-nabi-muhammad-saw.html#ixzz2NbVU7BJS

Peeristiwa Terbelahnya Bulan


PERISTIWA TERBELAHNYA BULAN

Al-Qur’an surat Al-Qamar ayat 1-5

1. (“Telah dekat datangnya saat itu) Hari Kiamat (dan telah terbelah Bulan”).
2. (“Dan jika mereka) orang-orang musyrikin (melihat suatu tanda) mukjizat, (mereka berpaling dan berkataIni adalah (“sihir yang kuat").
3. (“Dan mereka mendustakan) Nabi Muhammad saw (dan mengikuti hawa nafsu mereka, sedang tiap-tiap urusan) atau perkara yang baik maupun yang buruk (telah ada ketetapannya”).
4. (“Dan sesungguhnya telah datang kepada mereka beberapa kisah) berita-berita tentang dibinasakannya umat-umat yang telah mendustakan rasul-rasul mereka oleh Allah (yang di dalamnya terdapat cegahan”) bagi mereka untuk tidak melakukan hal serupa yaitu mendustakan rasul mereka.
5. (“Itulah suatu hikmah yang sempurna, tetapi tiada berguna peringatan-peringatan itu”) bagi kaum musyrik.

Asy-Syaikhain dan Imam Hakim telah mengetengahkan hadits yang bersumber dari Ibnu Mas’ud ra, Ibnu Mas’ud ra bercerita : “Aku melihat Bulan terbelah menjadi 2 bagian di Mekkah, yaitu sebelum Nabi saw keluar meninggalkannya (hijrah ke Madinah). Lalu orang-orang kafir Mekkah mengatakan : “Dia (Nabi Muhammad saw) telah menyihir Bulan”. Maka turunlah surat Al-Qamar ayat 1, orang-orang kafir Quraisy mendustakan kerasulan Nabi saw dan mereka menantang beliau saw untuk menunjukkan bukti tentang kerasulannya, lalu mereka meminta tanda bukti kenabian kepada Nabi saw. Lantas Nabi saw memohon kepada Allah swt, maka terbelahlah Bulan menjadi 2 bagian, 1 bagian Bulan di atas Gunung Abu Qubais dan 1 bagian lagi di bawahnya.

Kejadian tersebut disaksikan oleh orang banyak, baik orang yang berada dekat dengan lokasi kejadian tersebut, maupun yang berada jauh darinya. Kejadian itu berlangsung hingga Matahari terbenam, dan peristiwa itu bertepatan dengan bulan purnama. Dengan kejadian itu, Allah telah menambah kadar iman orang-orang mukmin. Sedangkan bagi orang-orang kafir yang telah dikunci mati hatinya oleh Allah, mereka semakin mendustakan Nabi Muhammad saw. Peristiwa terbelahnya Bulan tersebut terjadi pada tahun ke-9 dari kenabian Rasulullah, yaitu tahun 619 Masehi. Diriwayatkan bahwa terbelahnya Bulan ini merupakan mukjizat Nabi Muhammad saw yang kadarnya mendekati mukjizat Al-Qur’an.

Beberapa tahun yang lalu Prof.Dr.Zaghlul Raghib al-Najjar dalam sebuah perkuliahan di Fakultas Kedokteran di Universitas Cardiff, Inggris menyampaikan penjelasan ketika seorang muslim mengajukan pertanyaan tentang ayat-ayat yang ada di awal surat Al-Qamar, apakah ayat-ayat itu bisa dikategorikan sebagai mukjizat ilmiah Al-Qur;an? Profesor Zaghlul menjawab bahwa peristiwa itu merupakan salah satu mukjizat indrawi yang diberikan kepada Rasulullah saw untuk menegaskan kerasulannya di hadapan kaum kafir dan musyrik Quraisy. Mukjizat bukanlah peristiwa alamiah sehingga proses terjadinya tidak selalu bisa dijelaskan oleh teori pengetahuan. Seandainya mukjizat itu tidak disebutkan dalam Al-Qur’an dan riwayat atau sirah Nabi Muhammad saw, tentu kita yaitu kaum muslim hari ini tidak akan mempercanyainya. Namun, kita menyakininya sebagai peristiwa yang benar-benar terjadi karena disebutkan dalam Al-Qur’an.

Setelah menyampaikan jawaban tersebut, seorang warga Inggris muslim meminta izin kepada Profesor Zaghlul untuk memberikan sedikit penjelasan tambahan atas jawaban beliau. Warga Inggris itu bernama David M Pidcock, seorang muslim yang menjabat sebagai ketua partai muslim Inggris menceritakan bahwa ia memiliki kenangan tersendiri dengan ayat-ayat di awal surah Al-Qamar ini. Kisah itu terjadi pada tahun 1978, ketika ia melakukan riset perbandingan agama dan membaca Al-Qur’an Al-Karim. Ketika membaca ayat-ayat pertama surah Al-Qomar, ia tidak percaya bahwa Bulan pernah terbelah lalu menyatu kembali. Namun dengan kuasa Allah, ia ditakdirkan menonton siaran BBC di televisi yang menayangkan misi penjelajahan Luar Angkasa. Acara itu dipandu oleh pembawa acara kenamaan Inggris yang bernama James Burke.

Tamu yang diundang pada acara itu adalah 3 orang ilmuwan Amerika. Di tengah-tengah perbincangan, James Burke mengkritik biaya penelitian Luar Angkasa yang menghabiskan puluhan bahkan ratusan miliar dolar. “Padahal,” lanjut Burke, “di permukaan Bumi ini ada jutaan manusia yang kelaparan, sakit, bodoh, dan terbelakang”. Para ilmuwan itu menjawab bahwa penelitian Luar Angkasa dimaksudkan untuk mengembangkan tehnik-tehnik di bidang kedokteran, industri dan pertanian. “Dan itu telah tercapai”. Jawab para ilmuwan.

Namun James Burke masih terus mengkritik pemborosan uang ini, terutama misi pengiriman astronot ke Bulan yang memakan biaya sampai ratusan juta dolar. Para ilmuwan itu terus berusaha menyakinkan James Burke bahwa misi mereka itu berhasil menemukan fakta-fakta ilmiah baru.
Kata para ilmuwan : “Seandainya biaya misi itu digunakan untuk meyakinkan orang tentang fakta tersebut, kami yakin tidak ada seorang pun yang akan percaya”.
James Burke sang pembawa acara pun bertanya, “Fakta apa?”
Para ilmuwan menjawab : “Sebenarnya, Bulan pernah terbelah menjadi 2, kemudian menyatu kembali. Rekahan-rekahan yang menegaskan peristiwa itu dapat ditemukan di permukaan Bulan dan menghujam jauh ke dalam”.
Tuan Pidcock meneruskan ceritanya, “Ketika melihat tayangan itu, aku terlonjak dari tempat dudukku dan berteriak setengah tidak percaya : “Itu adalah mukjizat Muhammad yang diceritakan dalam Al-Qur’an! Allah memperlihatkan kebenaran mukjizat itu bagi kaum muslim di era hi-tech ini melalui perantara ilmuwan Amerika yang telah menghabiskan biaya tidak sedikit. Tidak salah lagi, Islam pasti agama yang benar. Aku langsung mengambil kembali terjemahan Al-Qur’an dan membacanya dengan gemetar. Ayat-ayat di awal surah Al-Qamar itulah yang membuatku masuk Islam”.

Dengan naik pesawat ruang Angkasa yang bernama Orbiter 3 dari ketinggian sekitar 60 km di atas permukaan Bulan, para peneliti ruang Angkasa membuktikan bahwa ada rekahan-rekahan yang panjang dan menghujam jauh ke perut Bulan. Dalamnya rekahan-rekahan ini berkisar antara setengah hingga ribuan meter, sementara lebarnya berkisar antara setengah hingga 5 kilometer. Rekahan-rekahan yang dikenal dengan nama Rima or Lunar Rilles itu membentuk jalur yang membelah Bulan dan dihubungkan beberapa lubang dengan kedalaman lebih dari 9 kilometer dan luas lebih dari 1000 kilometer. Salah satu rekahan yang terkenal adalah kawah Hyginus Rille yang terletak di bagian tengah Bulan, panjang kawah ini diperkirakan lebih dari 150 km, setara dengan 5 km panjang di Bumi dan kedalaman kawah ini kurang lebih 80 km, dan salah satu lubang yang terkenal adalah Mare Orientalis. Fakta ini terungkap tepat di saat sebagian muslim meragukan peristiwa terbelahnya Bulan dan bahwa peristiwa itu merupakan salah satu tanda datangnya Hari Kiamat sebagaimana disebutkan di awal surah Al-Qamar ayat 1:
(“Telah dekat datangnya saat itu”) Hari Kiamat.

Mereka lupa sabda Nabi Muhammad saw yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Sahal ibnu Sa’d, bahwa Rasulullah menunjuk Bulan seraya bersabda :
“Aku dibangkitkan (diangkat menjadi nabi) ketika aku dan Hari Kiamat seperti ini”, seraya menunjukkan 2 jari tangannya yang berdekatan, menunjukkan dekatnya masa Rasulullah saw dengan datangnya Hari Kiamat.
Orang yang mengingkari peristiwa terbelahnya Bulan berdasarkan firman Allah Al-Qur’an surat Al-Israa ayat 59

59. (“Dan sekali-kali tidak ada yang menghalangi Kami untuk mengirimkan) kepadamu (tanda-tanda) kekuasan Kami (melainkan karena tanda-tanda itu telah didustakan oleh orang-orang dahulu. dan telah Kami berikan kepada) Kaum (Tsamud unta betina itu) sebagai mukjizat Nabi Shaleh as (yang dapat dilihat, tetapi mereka menganiaya unta betina itu) dengan membunuhnya. (Dan Kami tidak memberi tanda-tanda itu melainkan untuk menakuti”) supaya mereka mau beriman.

Jika kita telaah kitab-kitab hadits dan sirah atau sejarah Nabi Muhammad saw, kita akan menemukan beberapa riwayat yang bercerita tentang terbelahnya Bulan. Tidak sedikit sahabat yang bercerita tentang terbelahnya Bulan, termasuk diantaranya Abdullah bin Umar dan Abdullah bin Abbas. Bahkan catatan sejarah dari India dan Cina kuno pun mengabadikan peristiwa itu. Dalam buku “Muhammad Rasulullah”, karya Prof.Muhammad Hamidullah menjelaskan bahwa sebuah manuskrip India kuno yang tersimpan di Museum Britania London, menceritakan bahwa salah seorang raja Malabar di sebelah barat daya India bernama Raja Chakrawati Farmas, pernah menyaksikan peristiwa terbelahnya Bulan di masa Rasulullah saw, lalu sang raja bercerita kepada orang-orang. Suatu ketika serombongn pedagang muslim yang hendak berlayar ke Cina singgah di Malabar.

Ketika mendengar cerita pengalaman Raja Chakrawati itu, mereka berusaha menyakinkan sang raja bahwa peristiwa itu merupakan mukjizat Rasulullah saw. Akhirnya raja itu mengunjungi Rasulullah saw dan menyatakan ke-Islamannya, Namun ajal menjemputnya sebelum ia tiba di tanah airnya, jenazahnya dikuburkan di daerah Thafar. Ketika kabar tentang Raja Chakrawati ini sampai di Negeri Malabar, rakyatnya menyatakan masuk Islam, sehingga mereka menjadi penduduk India yang pertama masuk Islam. Banyak riwayat yang bercerita tentang mukjizat yang ditunjukkan oleh Rasulullah saw semasa hidupnya. Dari Imam Bukhari meriwayatkan dari Anas bin Malik ra bahwa penduduk Mekkah pernah meminta Rasulullah saw untuk menunjukkan salah satu tanda kerasulannya. Lalu Rasulullah saw memperlihatkan kepada mereka Bulan yang terbelah, mereka pun melihat terbelahnya Bulan menjadi 2 bagian, tetapi setelah itu mereka mendustakannya.

Sekilas Afghanistan






Sebanyak 180 warga sipil telah tewas selama satu bulan di Afghanistan, kata juru bicara Kementerian Dalam Negeri negara itu pada hari Senin.
“180 warga sipil telah tewas dalam jangka kalender (22 Mei-21 Juni) dalam serangan dan pemboman di seluruh wilayah negeri,” kata juru bicara Seddeq Seddeqi kepada wartawan dalam konferensi pers bersama.
Tokoh itu juga mengungkapkan, beberapa warga sipil juga terluka dalam beberapa insiden tersebut.
Dia mengatakan 299 polisi Afghanistan juga telah tewas dan 618 perwira militer terluka selama operasi, akibat serangan bersenjata dan pemboman selama periode waktu yang sama.
“Sebanyak 753 musuh musuh Afghanistan (Taliban) telah tewas, 357 orang terluka dan 305 militan ditahan selama 378 kali operasi militer di seluruh negeri pada bulan yang sama,” kata Seddeqi.
Para pejabat Afghanistan menggunakan istilah “musuh-musuh Afghanistan” untuk mengacu pada gerilyawan Taliban.
Pemberontakan dan konflik di Afghanistan telah merenggut nyawa lebih dari 2, 800 pasukan keamanan Afghanistan dan 400 tentara asing , dan mengakibatkan 2.754 warga sipil tewas pada tahun 2012 lalu dalam perang yang tak pernah henti di negeri Asia Tengah itu. (Xinhua/KH)

Aliansi Islam Nasional




“Aliansi Islam Nasional” Mesir menyerukan agar pada Selasa pagi untuk melakukan aksi massa kembali untuk mendukung Presiden Mohammad Mursi, menyusul adanya ultimatum militer dalam  48 jam bagi semua pihak untuk mencapai resolusi.
Koresponden Al Arabiya melaporkan bahwa Ikhwanul Muslimin dan kelompok-kelompok Islam lainnya mulai mengumpulkan para pendukungnya di berbagai provinsi yang berbeda dengan fokus pada kota Kairo dan Giza.
Para aktivis melaporkan bahwa unjuk rasa  pro-Mursi berencana menggelar demonstrasi terbuka  untuk menandingi  demonstrasi oposisi.
Selama konferensi pers, Aliansi Nasional partai-partai Islam, termasuk Ikhwanul Muslimin menolak penggunaan tentara untuk “serangan yang dilegitimasi” dengan cara yang mengarah ke kudeta militer.
Aliansi Islam mengatakan menghormati semua inisiatif untuk menyelesaikan krisis tetapi harus didasarkan pada konstitusi. Ini juga mengutuk aksi kekerasan yang menewaskan belasan demonstran dan melukai ratusan lainnya. (Arby/Dz)

Sumber:eramuslim.com

Kamis, 23 Mei 2013

 

 

Renungkan 6 Pertanyaan ini

Suatu hari , Seorang Guru berkumpul dengan murid-muridnya. Lalu beliau mengajukan enam pertanyaan.


1. Apa yang paling dekat dengan diri kita di dunia ini?

Murid-muridnya ada yang menjawab "orang tua", "guru", "teman", dan "kerabatnya" ..
Sang Guru menjelaskan semua jawaban itu benar.

Tetapi yang paling dekat dengan kita adalah "kematian". Sebab kematian adalah PASTI adanyaâ?¦.




2. Lalu Sang Guru meneruskan pertanyaan kedua, "Apa yang paling jauh dari diri kita di dunia ini?

Murid-muridnya ada yang menjawabâ?¦ "negara Cina", "bulan", "matahari", dan "bintang-bintang" Lalu Sang Guru menjelaskan bahwa semua jawaban yang diberikan adalah benarâ?¦

Tapi yang paling benar adalah "masa lalu".
Siapa pun kitaâ?¦ bagaimana pun kitaâ?¦hehean betapa kayanya kitaâ?¦ tetap kita tidak bisa kembali ke masa lalu, sebab itu kita harus menjaga hari iniâ?¦ dan hari-hari yang akan datang..


3. Apa yang paling besar di dunia ini?

Murid-muridnya ada yang menjawab "gunung", "bumi", dan "matahari".
Semua jawaban itu benar kata Sang Guru â?¦

Tapi yang paling besar dari yang ada di dunia ini adalah "nafsu". Banyak manusia menjadi celaka karena memperturutkan hawa nafsunya. Segala cara dihalalkan demi mewujudkan impian nafsu duniawi. Karena itu, kita harus hati-hati dengan hawa nafsu iniâ?¦ jangan sampai nafsu membawa kita ke neraka (atau kesengsaraan dunia dan akhirat).


4. Apa yang paling berat di dunia ini?

Di antara muridnya ada yang menjawabâ?¦ "baja", "besi", dan "gajah".
"Semua jawaban hampir benarâ?¦", kata Sang Guru, tapi yang paling berat adalah "memegang amanah"


5. Apa yang paling ringan di dunia ini?

Ada yang menjawab "kapas", "angin", "debu", dan "daun-daunan".
"Semua itu benarâ?¦", tapi kata Sang Guru, "yang paling ringan di dunia ini adalah meninggalkan ibadah."


6. Pertanyaan terakhir, "Apakah yang paling tajam di dunia ini?"

Murid-muridnya menjawab dengan serentakâ?¦ "PEDANG?¦!! !"

"(hampir) Benar?¦", Tetapi kata Sang Guru. "yang paling tajam adalah lidah manusia." Karena melalui lidah, manusia dengan mudahnya menyakiti hati dan melukai perasaan saudaranya sendiri

QS. Al Qolam : 1-6

Created by

PIMPINAN RANTING IPM SMK MUHAMMADIYAH PARAKAN